Jumat, 31 Januari 2014

Pesantren Pendidikan Tradisional

"+"


PESANTREN
SEBAGAI LEMBAGA PENDIDIKAN TRADISIONAL ISLAM



Di masa penyebaran Agama Islam di Indonesia, pusat-pusat pengajaran Islam didirikan di beberapa daerah di nusantara, mulai dari Aceh, Demak, sampai ke Makasar. Dari pusat-pusat belajar ini, Agama Islam mulai tersebar ke seluruh kepulauan dengan di bawa oleh para saudagar Muslim. Wali, muballigh, atau ulama telah menyediakan pendidikan bagi kaum muslim Indonesia. Setidaknya terdapat dua model pengajaran agama Islam pada masa awal, yaitu pengajian Al quran, dan pesantren (Muhaimin: 1995). Keduanya masih tetap eksis hingga saat ini dalam bentuk yang beraneka ragam. Kehadiran  tipe-tipe pendidikan seperti ini sesungguhnya didasarkan pada upaya untuk memantapkan pengajaran agama terhadap para anak-anak dan masyarakat. Ini karena pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama masyarakat muslim. Untuk memenuhi tanggung jawab itu, maka didirikan pendidikan yang dikenal dengan istilah pendidikan informal.
Pengajian Al quran merupakan pendidikan tingkat dasar bagi seseorang muslim di Indonesia. Ini merupakan proses pembelajaran yang biasanya diselenggarakan di dalam rumah-rumah, masjid atau muslolla. Proses yang dilakukan itu merupakan langkah pertama dalam pendidikan anak. Sejak dini, anak-anak diperkenalkan Al quran. Biasanya pengajian ini menekankan pada pembacaan dan isi kandungan Al quran. Dibawah instruksi dari para orang tua muslim di rumah, anak-anak belajar cara mengaji (membaca Al quran) yang benar, menghafal sedikit demi sedikit surat-surat dalam Al quran dan bacaan-bacaan sehari-hari dalam sembayang (Muhaimin, 1995). Karena ini merupakan tanggung jawab bagi setiap muslim untuk memahami pengajaran agamanya, maka jika tidak para orang tua tidak dapat memberikan pengajaran sendiri. Mereka akan mengirimkan atau membiarkan anak-anak mereka pergi ke musolla/ langgar atau masjid.
Pada pendidikan pesantren tidak ada persyaratan khusus atau peraturan yang mengikat bagi anak-anak untuk menyelesaikan pembelajaran mereka dalam waktu tertentu, atau bagi guru untuk mengajar, kesuksesan pembelajaran tergantung pada anak-anak sendiri. Bagi mereka yang ingin melanjutkan pembelajaran keagamaannya, diharapkan dapat melanjutkan di pesantren. Untuk itu pesantren dipandang sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional. Pendirian pesantren merupakan upaya untuk menciptakan pengaruh yang penting dalam pengembangan Muslim Indonesia, karena pesantren tidak hanya melayani masyarakat sebagai lembaga pendidikan dan keagamaan, tetapi juga sebagai lembaga sosial.
Pesantren di beberapa segi terbangun sebagai manifestasi dari dua keinginan yang berpadu: (1) keinginan atau hasrat mereka yang ingin mendapatkan pengajaran dan pengetahuan agama agar dapat hidup tentram dan mendapat pahala dari Tuhan; (2) hasrat mereka yang ingin mencari keridhaan dan pahala dari Tuhan melalui pemberian pengajaran kepada orang lain (mastuhu, 1994). Sisi lain tujuan utama pendirian pesantren adalah 1) untuk mempersiapkan santri dalam memahami dan menguasai pengajaran dan studi Islam (tafaqquh fiddin); 2) untuk menyebarkan dan mendakwahkan pemahaman ajaran Islam kepada masyarakat muslim; dan 3) sebagai benteng pertahanan masyarakat di bidang etika, moral dan akhlak. Sejalan dengan tujuan ini, maka seluruh materi pendidikan yang diajarkan di pesantren di ambil dari materi-materi keagamaan yang langsung diperoleh dari buku-buku atau naskah klasik berbahasa Arab (dikenal istilah kitab kuning). Hal ini dapat diartikan bahwa pesantren tidak hanya memiliki keaslian pengajaran Islam (tradisional/sunnah Islam), tetapi juga mempunyai akar kesejarahan dan otentisitas Indonesia (Nurcholis Majid, 1985).
Pesantren memiliki tempat tersendiri sebagai sebuah lembaga pendidikan, karena tidak hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai tempat pengembangan nilai-nilai keagamaan. Tentunya hal ini membantu mereka yang ingin menyerap nilai-nilai keislaman secara menyeluruh. Fenomena ini dipandang oleh sebagaian masyarakat bahwa metode yang digunakan di pesantren akan sulit menciptakan hasil yang baik. Ini karena sistem pendidikan pesantren tidak mengakomodir sistem pendidikan modern. Maka sifat tradisionalitas pesantren menjadi melekat dalam sistem pendidikannya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar