Kamis, 27 Februari 2014

Pemikiran Ketuhanan Al Kindi

"+"
PEMIKIRAN KETUHANAN
MENURUT AL-KINDI


Al-Kindi adalah filosof pertama dalam dunia filsafat Islam. Pemikiran-pemikiran filosofisnya sangat menonjol, hal ini terutama karena dia adalah filosof muslim yang berusaha untuk menyelaraskan agama dan filsafat. Posisi al-Kindi yang meyakini bahwa agama dan filsafat atau nalar dan wahyu bisa diselaraskan kemudian terulang kembali dalam sejarah peradaban manusia beberapa abad kemudian, melalui apa yang dilakukan oleh Santo Thomas Aquinas dalam tradisi Kristen beberapa abad kemudian.[1]
Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani dan filosof-filosof Islam  lainnya. Al-kindi, selain dari filosof, adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
a.   Pengetahuan ilahi (devine science), sebagaimana yang tercantum dalam    Qur’an yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah keyakinan.
b.  Pengetahuan manusiawi (human Science) atau falsafat. Dasarnya adalah pemikiran (ratio-reason)

Argumen-argumen yang dibawa al-Qur'an lebih meyakinkan daripada argumen-argumen yang ditimbulkan  falsafat. Tetapi falsafat dan al-Qur'an tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa falsafat. Mempelajari falsafat dan berfalsafat tidaklah dilarang, karena teologi adalah bagian dari falsafat, dan umat Islam diwajibkan belajar teologi.
Falsafat baginya adalah pengetahuan tentang yang benar (knowledge of truth). Di sinilah terlihat persamaan falsafat dengan agama. Tujuan agama adalah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik; falsafat itu pulalah tujuannya. Agama, di samping wahyu, mempergunakan akal; dan falsafat juga mempergunakan akal.[2] Yang benar pertama (the first truth) bagi al-Kindi adalah Tuhan. Falsafat dengan demikian membahas Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya. Falsafat yang paling tinggi adalah falsafat tentang Tuhan. Sebagai kata al-Kindi :
Falsafat yang termulia dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang yang  benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.[3]  Adapun mengenai keesaan Tuhan,  bahwa masalah keesaan Tuhan ini muncul karena dalam kenyataan bahwa ciptaan Tuhan begitu banyak, dan apakah dengan banyaknya ciptaan itu tidak mengganggu keesaan? Untuk menjelaskan masalah ini, al-Kindi mencoba menjawab lewat teori tentang kebenaran. Menurutnya, kebenaran adalah persesuaian antara apa yang ada di dalam akal dan apa yang ada di luar akal.[4] Selanjutnya, bahwa di dalam alam ini terdapat pada benda-benda yang tidak dapat ditangkap dengan panca indera. Benda-benda itu merupakan juz'iyat (particulars) dan yang terpenting dalam filsafat bukan yang juz'iyat dan tak terhingga banyaknya itu, melainkan yang terdapat dalam Juz'iyat itu, yaitu kulliyat (universal).
Selain itu, menurutnya bahwa tiap-tiap benda mempunyai dua hakikat, yaitu hakikat yang disebut anniyah, dan hakikat yang disebut kulli yang sebenarnya mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal yang mengambil bentuk genus dan species.[5] Al-Kindi menyifati Tuhan dengan istilah-istilah baru. Menurutnya Tuhan adalah yang benar dan tinggi serta dapat disifati dengan sebutan-sebutan negatif, seperti Tuhan bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah dan tak berhubungan. Tuhan juga tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada di alam. Tuhan tak berjenis, tak terbagi dan tak berkejadian. la abadi, oleh karena itu, la Maha Esa dan selain- Nya adalah terbilang.[6] Dalil-dalil al-Kindi dalam membahas tentang kemaujudan Allah bertumpu pada keyakinan akan hubungan sebab akibat segala sesuatu yang maujud pasti ada yang mewujudkan. Rangkaian sebab ini terbatas. Oleh karena itu, perlu ada sebab pertama atau sebab sejati, yaitu tiada lain adalah Allah sendiri yang tak berjenis. Dengan kata lain, bahwa dalam pencariannya itu, al-Kindi mengikuti jalur ahli logika.
  Selanjutnya pembahasan mengenai penciptaan alam,  al-Kindi dalam bukunya "Rasa'il al-Kindi al-Falsafiyah" menjelaskan bahwa alam ini dijadikan oleh Allah dari tidak ada kepada ada. Di samping itu pula Allah, juga yang mengendalikan dan mengatur serta menjadikannya sebagai sebab bagi yang lain. Alam mi diciptakan Allah dari tiada, dan oleh karenanya al-Kindi menyanggah teori mengenai ke-qadim-an alam seperti yang dikatakan oleh Aristoteles. Menurut al-Kindi, di alam ini terdapat berbagai gerak antara lain gerak yang menjadikan dan yang merusak, dan gerak yang seperti ini ada empat sebabnya, yaitu: sebab material, formal, pembuat dan sebab tujuan. Sebab-sebab tersebut pada akhirnya bertemu pada ”Sebab Pertama” yang menyebabkan segala kejadian dan kemusnahan di alam ini, yakni Allah SWT.[7]
Jadi alam ini menurut al-Kindi terdiri dua bagian, yaitu, alam yang terletak di bawah falak bulan, dan alam yang merentang tinggi sejak dari falak bulan sampai ujung alam. Alam yang pertama ini terjadi dari empat unsur tersebut, dan karenanya mengalami perubahan, pertumbuhan dan kemusnahan, sedangkan alam jenis kedua adalah alam yang tidak bertumbuh dan tidak musnah, karena itu tidak terjadi dari unsur-unsur tersebut, sehingga bersifat abadi. Alasan lain dikemukakan oleh al-Kindi untuk menyatakan bahwa alam ini tidak kekal adalah mengenai teori ketakterhinggaan secara matematik.[8] Menurutnya, benda-benda fisik ini terjadi dari materi dan bentuk, serta bergerak dalam ruang dan waktu. Dengan demikian, bentuk, ruang dan waktu merupakan unsur dari segala sesuatu yang bersifat fisik, dan wujud yang erat hubungannya dengan fisik, waktu dan ruang ini terbatas, karena keberadaannya adalah keterbatasan. Dengan ketentuan tersebut, maka setiap benda yang terjadi dari materi dan bentuk, yang terbatas oleh ruang dan gerak di dalam waktu, adalah terbatas, meski benda itu adalah wujud dunia. Karena benda itu terbatas, maka ia tidak kekal, dan hanya Allah-lah yang kekal. Demikianlah teori penciptan alam yang diajukan al-Kindi, yaitu diciptakan dari ketiadaan, bersifat terbatas dan tidak kekal.
Sesuai dengan ajaran paham Islam, Tuhan bagi al-Kindi adalah pencipta dan bukan penggerak pertama seperti pendapat Aristoteles. Alam bagi al-Kindi bukan kekal di zaman lampau (qodim), tetapi mempunyai permulaan. Karena itu dalam hal ini ia lebih dekat dengan filsafat Plotinus yang mengatakan bahwa Yang Maha Satu (to hen) adalah sumber dari alam ini dan sumber dari segala yang  ada. Alam ini adalah emanasi atau pancaran dari Yang Maha Satu. Sayang, paham emanasi al-Kindi itu tidak begitu jelas.[9]


[1] Pradana Boy,  Filsafat Islam , Sejarah, Aliran dan Tokoh, Universitas Muhammadiah Malang, 2003, hlm. 87. Lihat juga Ali Mahdi Khan, Dasar-dasar Filsafat Islam Pengatar Ke Gerbang Pemikiran, terj. Subarkah, Yayasan Nuansa Cendekia, Bandung, 2004, hlm. 47.   
[2]  Pradana Boy ZTF, op. cit, hlm. 89.
[3] Harun Nasution, Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam , cet. 9, PT. Bulan Bintang, Jakarta, 1995, hlm. 9.

[4] Juhaya S.Praja, Aliran-Aliran Filsafat dan Etika, Yayasan Pria, Jakarta,  2003, 197.
[5] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat dan Tasawuf (Dirasah Islamiah IV), cet, 1, Citra Niaga, Rajawali Press, Jakarta, 1993, hlm. 17-18
[6] M.M. Syarif, The History of Muslim Philosopy, Bagian ke-3 “The Philosopher”, terj, Ilyas Hasan, Mizan, Bandung,1993, hlm.21
[7] Abuddin Natta. Op.cit, hlm. 122-123.
[8] M.M. Syarif, Op.cit, hlm. 24.
[9] Juhaya S.Praja, op. cit, hlm. 198.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar