Kamis, 27 Februari 2014

Ketuhanan Ibnu Sina

"+"

PANDANGAN KETUHANAN IBNU SINA



Ibnu Sina, nama lengkapnya adalah Abu Ali Al-Husain iben Abdullah iben Sina, Ia bergelar Abu Ali.
Ketuhanan bagi Ibnu Sina sifat wujudlah yang terpenting dan yang mempunyai kedudukan di atas segala sifat lain, walaupun essensi sendiri. Esensi, dalam faham Ibnu Sina, terdapat dalam akal, sedang wujud terdapat di luar akal. Wujudlah yang membuat tiap essensi yang dalam akal mempunyai kenyataan di luar akal. Tanpa wujud, essensi tidak besar artinya. Oleh sebab itu wujud lebih penting dari essensi. Tidak mengherankan kalau dikatakan bahwa Ibnu Sina telah terlebih dahulu menimbulkan falsafat wujudiah atau existentialism dari filosof-filosof lain (Ibrahim Madzkur, 1988 : 211)
Kalau dikombinasikan, essensi dan wujud dapat mempunyai kombinasi berikut:
a. Essensi yang tak dapat mempunyai wujud, dan hal yang serupa ini disebut oleh Ibnu Sina mumtani’ yaitu sesuatu yang mustahil berwujud. Sebagai umpamanya, adanya sekarang ini, juga kosmos lain di samping kosmos yang ada.
b.   Essensi yang boleh mempunyai wujud dan boleh pula tidak mempunyai wujud. Yang serupa ini di sebut mumkin yaitu sesuatu yang mungkin berwujud tetapi mungkin pula tidak berwujud. Contohnya adalah alam ini yang pada mulanya tidak ada, kemudian ada dan akhirnya akan hancur menjadi tidak ada.
c.    Essensi yang tidak boleh tidak mesti mempunyai wujud. Di sini essensi tidak bisa dipisahkan dari wujud; essensi dan wujud adalah sama dan satu. Disini essensi tidak dimulai oleh tidak berwujud dan kemudian berwujud. Sebagaimana halnya dengan essensi dalam kategori kedua, tetapi essensi mesti dan wajib mempunyai wujud selama-lamanya. Yang serupa ini disebut mesti berwujud yaitu Tuhan Wajib al-wujud inilah yang mempunyai mumkin al-wujud.
Dengan argumen ini Ibnu Sina ingin membuktikan adanya Tuhan menurut logika (Harun Nassution, 1994 : 34). 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar