Rabu, 27 Agustus 2014

Teori Belajar Konstruktivistik dalam Pembelajaran

"+"

TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISTIK
DALAM PEMBELAJARAN

Konstruktivisme adalah sebuah gerakan besar yang memiliki filosofi sebesar strategi pendidikan. Konstruktivisme sangat berpengaruh di bidang pendidikan, dan memunculkan beragam metode dan strategi baru[1].  Secara konseptual, proses belajar jika dipandang dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang berlangsung satu arah dari luar ke dalam diri siswa, melainkan sebagai pemberian makna oleh siswa kepada pengalamannya melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara pemutakhiran kognitifnya. Kegiatan belajar lebih dipandang dari segi prosesnya dari pada segi perolehan pengetahuan dari fakta-fakta yang terlepas-lepas. Proses tersebut berupa “ ….constructing and restructuring of knowledge and skill (schemata) whitin the individual in acomplex network of increasing conceptual consistency….”  Pemberian makna terhadap obyek dan pengalaman individu tersebut tidak dilakukan secara sendiri-sendiri oleh siswa, melainkan melalui interaksi dalam jaringan sosial yang unik, yang terbentuk baik dalam budaya kelas maupun luar kelas. Oleh sebab itu pengelolaan pembelajaran harus diutamakan pada pengelolaan siswa dalam memproses gagasannya, bukan semata-mata pada pengelolaan siswa dan lingkungan belajarnya bahkan pada unjuk kerja atau prestasi belajarnya yang dikaitkan dengan sistem penghargaan diri dari luar seperti nilai, ijasah, dan sebagainya[2]
Konstruktivistik menjadi landasan dan kecenderungan yang muncul dalam dunia pembelajaran, seperti perlunya siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan kemampuan belajar mandiri, memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuannya sendiri, serta perlunya guru menjadi fasilitator, mediator, dan manajer dari proses pembelajaran itu sendiri.
Sebagai suatu pendekatan dalam proses pembelajaran, konstruktivistik menekankan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) pengetahuan yang dibangun siswa secara aktif, (2) tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa, (3) mengajar adalah membantu siswa belajar, (4) tekanan dalam proses belajar lebih pada proses, bukan pada hasil akhir, (5) kurikulum menekankan partisipasi siswa, dan (6) guru adalah fasilitator .[3]
Konstruktivistik berhubungan erat dengan beberapa teori belajar, diantaranya adalah teori perubahan konsep, teori belajar bermakna Ausubel, dan teori skema. Teori perubahan konsep menekankan bahwa siswa mengalami perubahan konsep secara terus menerus. Hal ini sejalan dengan konstruktivistik yang menekankan bahwa pengetahuan dibentuk oleh siswa yang sedang belajar. Dengan kata lain, teori perubahan konsep sangat dipengaruhi oleh konstruktivistik. Posner, dkk menyatakan bahwa, dalam belajar ada proses perubahan konsep yang mirip dengan yang ada dalam filsafat sains tersebut. Asimilasi dan akomodasi merupakan tahapan perubahan konsep tersebut[4].
Dalam asimilasi, siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka punya untuk berhadapan dengan fenomena yang baru, sedangkan dalam akomodasi siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena yang baru mereka hadapi. Konstrutivistik membantu untuk mengerti bagaimana siswa membentuk pengetahuan yang tidak tepat. Dengan demikian, seorang guru membantu untuk mengarahkan siswa dalam pembentukan pengetahuan mereka yang lebih tepat. Teori perubahan konsep sangat membantu karena mendorong guru agar menciptakan suasana dan keadaan yang memungkinkan perubahan konsep yang kuat pada siswa, sehingga pemahaman mereka lebih sesuai dengan pemahaman ilmuwan.
Teori belajar bermakna Ausubel menekankan bahwa informasi baru dihubungkan dengan struktur pengetahuan yang sudah dimiliki seseorang yang sedang belajar.[5] Belajar bermakna terjadi jika siswa mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Hal ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dimiliki siswa. Teori belajar bermakna Ausubel sangat dekat dengan inti pokok konstruktivistik. Keduanya menekankan pentingnya siswa mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam sistem pengertian yang telah dimiliki. Disamping itu keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep atau pengertian yang sudah dimiliki siswa.
Pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan konstruktivistik dengan menggunakan metode tertentu didasarkan atas asumsi bahwa siswa datang ke kelas sudah memiliki ide dan pengetahuan berdasarkan informasi yang didapat di lingkungan sekitarnya. Melalui proses pembelajaran konstruktivistik, siswa menambah, merevisi atau memodofikasi struktur pengetahuan lama menjadi struktur pengetahuan baru. Menurut Pannen, dkk bahwa dalam konstruktivisme, pembelajaran bukanlah kegiatan memindahkan pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya.[6]
Sebagai akibat penekanan pendekatan konstruktivistik berpusat pada siswa, sehingga dalam mencapai pemahaman yang benar dalam konstruksi pengetahuan siswa diperlukan metode-metode yang mendukung proses pembelajarannya. Belajar aktif, penafsiran, masuk akal, pertukaran pemikiran, kerjasama dan inkuiri (menyelidik) merupakan kata kunci dalam metode pembelajaran dengan pendekatan konstruktivistik.
Anggapan lama yang mengatakan bahwa siswa itu tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan sebelum menerima materi pelajaran dari guru, kiranya tidak cocok dengan prinsip konstruktivistik, karena yang terpenting dalam pendekatan konstruktivistik adalah bahwa dalam proses belajar siswalah yang harus mendapatkan prioritas. Siswa yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka sendiri. Siswa yang kreatif dan aktif mengembangkan pengetahuan dan kemampuan mereka sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis suatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja.



[1] Muijs D & Reynolds D, Effective Teaching, Teori dan Aplikasi (Terjemahan Helly Prajitno S & Sri Mulyantini S),  London : Sage Publication Ltd (Buku Asli edisi kedua diterbitkan tahun 2008) hal. 95
[2]Asri Budiningsih, C. Karakteristik siswa sebagai pijakan pembelajaran. (Yogyakarta: Diktat Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, 2004) hlm 5
[3]Suparno, Filsafat Konstruktivisme dalam pembelajaran, (Yogyakarta: Kanisius. 2001) hlm. 73
[4] Ibid., hlm.  50
[5] Ibid., hlm.  54
[6]Pannen, P. dkk, Konstruktivisme dalam pembelajaran, (Jakarta: Departemen pendidikan nasional Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi Proyek pengembangan universitas terbuka, 2001) hlm. 22

Tidak ada komentar:

Posting Komentar